Beranda » Berita » Eksekutif » Pemkab Barito Utara » Pemkab Barito Utara Wajibkan Bahasa Daerah di Sekolah, Jadi Terobosan Penguatan Identitas Lokal

Pemkab Barito Utara Wajibkan Bahasa Daerah di Sekolah, Jadi Terobosan Penguatan Identitas Lokal

1910 Inovasi Bunda Paud

Borneohits.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Utara (Barut) semakin mempertegas komitmennya dalam pelestarian bahasa daerah dengan menjadikan satuan pendidikan sebagai ujung tombak.

Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025, pemerintah daerah resmi meluncurkan kebijakan penggunaan bahasa ibu secara terjadwal di sekolah, sebuah langkah progresif yang belum banyak dilakukan daerah lain.

Instruksi Bupati Barito Utara mewajibkan penggunaan bahasa daerah seperti Pakumpai, Mayan, Saboyan, dan Dusun Malang di seluruh sekolah setiap hari Kamis pada minggu pertama tiap bulan.

Kebijakan ini sekaligus membuka babak baru penguatan identitas budaya lokal melalui jalur pendidikan formal.

Bunda PAUD Barito Utara, Hj Maya Savitri Shalahuddin, menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda.

Kejadian Karhutla Capai 182, Bupati Barut Perkuat Penanganan Karhutla

Ia menegaskan bahwa penggunaan bahasa daerah di sekolah merupakan “jembatan pemahaman” yang mempererat hubungan sosial sekaligus menjaga warisan budaya.

“Dulu, kami dilarang berbicara dalam bahasa daerah di sekolah. Kini, kita balikkan paradigma itu. Kita ingin anak-anak bangga dengan bahasa ibunya. Bahasa adalah cerminan identitas kita sebagai bangsa,” ujar Hj Maya dalam sambutannya di FTBI, Sabtu (18/10/2025).

Ia juga mendorong agar kebijakan serupa diterapkan di lingkungan pemerintahan, termasuk penggunaan bahasa daerah di OPD dalam satu hari kerja khusus sebagai bentuk keteladanan.

Kebijakan penggunaan bahasa daerah di sekolah ini merupakan bagian dari program 100 hari kerja Bupati Barito Utara di sektor pendidikan.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa langkah tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan strategi konkret menyelaraskan pendidikan dengan pelestarian budaya lokal.

APBN Rp50 Miliar Perkuat Layanan Air Bersih Barut

“Kalau bahasa daerah punah, maka hilanglah sebagian dari jati diri kita,” tegas Hj Maya.

Ia berharap FTBI terus menjadi ruang kreatif bagi anak-anak untuk mencintai dan menggunakan bahasa ibu sejak dini, sekaligus memperkuat peran PAUD dalam membangun karakter generasi penerus. (red)