Borneohits.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Barito Utara (Barut) terus memperkuat upaya eliminasi Tuberkulosis (TBC) seiring masih tingginya jumlah kasus serta kesenjangan antara temuan pasien dan inisiasi pengobatan.
Hingga 2025, tercatat sebanyak 227 kasus TBC telah menjalani terapi, namun sejumlah tantangan masih menghambat percepatan penanganan.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (PSDK) Dinkes Barito Utara, Yessi Aria Puspita, mengungkapkan bahwa investigasi kontak belum berjalan optimal dan cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT) masih rendah.
Sebagian masyarakat menolak TPT karena merasa sehat, meski pernah memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
“Masih banyak masyarakat yang menolak TPT karena merasa sehat, padahal memiliki riwayat kontak erat dengan penderita. Di sinilah pentingnya edukasi. Kita harus memastikan pencegahan dilakukan sejak dini,” ujar Yessi dalam Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Program Tuberkulosis 2025, baru-baru ini.
Selain itu, Yessi menilai pencatatan dan pelaporan di fasilitas kesehatan masih lambat, sehingga menyulitkan pemetaan kondisi kasus secara akurat.
Pertemuan monitoring tersebut diharapkan menjadi sarana bagi Puskesmas dan RSUD untuk meningkatkan kualitas data sekaligus mencari solusi teknis atas hambatan di lapangan.
Ia menegaskan bahwa percepatan eliminasi TBC tidak dapat ditunda, mengingat Indonesia masih berada pada posisi kedua negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak di dunia.
“Setiap jam, 14 orang meninggal akibat TBC. Ini ancaman serius yang harus kita hadapi bersama,” tegasnya.
Target nasional eliminasi TBC pada 2025 meliputi 90 persen deteksi kasus, 100 persen inisiasi pengobatan, serta keberhasilan terapi di atas 80 persen.
Untuk mencapai sasaran itu, Dinas Kesehatan mengajak fasilitas kesehatan dan komunitas memperkuat peran dalam investigasi kontak, skrining kelompok berisiko, serta pendampingan pasien selama pengobatan.
Menurut Yessi, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci percepatan, mengingat mereka berada paling dekat dengan pasien dan lingkungan sekitar.
Dengan kolaborasi seluruh pihak, ia optimistis upaya eliminasi TBC di Barito Utara dapat berjalan lebih efektif. (red)












