Borneohits.com – Tata kelola evaluasi pendidikan di Kabupaten Barito Utara (Barut) mulai menerapkan sistem pengetatan berlapis.
Pengondisian sistem pengawasan silang antar-satuan pendidikan dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun ini dibidik sebagai instrumen mutlak untuk mengunci validitas, transparansi, serta akuntabilitas hasil ujian.
Langkah preventif tersebut diterapkan guna meminimalisir celah deviasi pengawasan di dalam ruang kelas.
Berdasarkan cetak biru Dinas Pendidikan Barito Utara, standarisasi TKA kali ini diikuti oleh potret populasi yang cukup besar, yakni sebanyak 1.903 siswa yang tersebar di 43 sekolah, meliputi 38 SMP negeri dan 5 SMP swasta.
Anggota DPRD Kabupaten Barito Utara, Naruk Saritani, memberikan atensi positif terhadap skema pengawasan tersebut.
Ia menilai intervensi dari Kepala Dinas Pendidikan, Syahmiludin A Surapat, yang turun langsung melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah titik ujian pada Kamis (9/4/2026), merupakan garansi penting dalam memastikan standardisasi prosedur operasi di lapangan.
“Pengawasan langsung ini penting untuk memastikan pelaksanaan TKA berlangsung tertib, jujur, dan sesuai ketentuan,” ujar Naruk Saritani, Jumat (10/4/2026).
Naruk memaparkan, indeks kualitas pelaksanaan ujian nasional di tingkat daerah tidak boleh hanya diukur dari kesiapan infrastruktur teknologi atau logistik semata.
Faktor determinan yang jauh lebih mendasar terletak pada integritas sistem pengawasan yang mampu menjamin objektivitas nilai dari hulu ke hilir. Hasil akumulasi TKA dituntut harus linier dengan kapasitas riil inteligensia siswa.
Lebih lanjut, legislator Barito Utara ini menyoroti fungsi strategis TKA sebagai instrumen makro pemetaan mutu capaian standar kompetensi lulusan (SKL), khususnya bagi segmen siswa kelas IX yang akan segera melakukan transisi melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah atas.
“Dengan sistem yang transparan dan pengawasan yang maksimal, hasil ujian akan lebih kredibel dan bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan pendidikan,” kata Naruk.
Dalam rangkaian inspeksi taktis di wilayah klaster perkotaan Muara Teweh, sejumlah sekolah perimeter utama terpantau menjadi sampel pengujian sistem, di antaranya SMPN 1, SMPN 8, SMPN 9, dan SMPN 10.
Implementasi pengawas silang di sekolah-sekolah tersebut terbukti efektif membangun atmosfer ujian yang kompetitif secara sehat.
Ke depan, lembaga legislatif mendesak otoritas dinas pendidikan agar tidak menghentikan evaluasi TKA pada level teknis ujian semata.
Rekomendasi perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) wajib mencakup aspek kurikulum pasca-ujian demi mendongkrak daya saing sumber daya manusia di Bumi Iya Mulik Bengkang Turan.
“Perbaikan berkelanjutan sangat diperlukan agar kualitas pendidikan di Barito Utara semakin meningkat dan mampu mencetak lulusan yang berdaya saing,” pungkas Naruk Saritani. (red)











