Borneohits.com – Pemenuhan syarat istithaah kesehatan bagi calon jemaah haji di Kabupaten Barito Utara (Barut) kini diperketat melalui serangkaian parameter medis fungsional.
Langkah ini ditempuh sebagai instrumen perlindungan mutlak (safety guard) guna menguji ketahanan fisik jemaah sekaligus memitigasi risiko gangguan kesehatan fatal saat dihadapkan pada cuaca ekstrem dan ritual ibadah yang menguras energi di Tanah Suci.
Akselerasi kesiapan fisik tersebut diwujudkan melalui pengukuran kebugaran jasmani secara massal yang dipusatkan di halaman Kantor Bupati Barito Utara dan Arena Terbuka Tiara Batara, Minggu (12/4/2026).
Agenda kedokteran komunitas ini diikuti oleh 113 calon jemaah haji klaster Barito Utara yang dijadwalkan bertolak pada musim haji tahun 2026.
Anggota DPRD Kabupaten Barito Utara, H Nurul Anwar, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah preventif yang diinisiasi oleh jajaran dinas kesehatan setempat.
Ia menilai regulasi pengetatan standar kesehatan operasional ini merefleksikan keseriusan pemerintah daerah dalam mengintervensi aspek keselamatan jiwa jemaah sejak dari fase domestik.
Menurutnya, pemaknaan konsep istithaah dalam berhaji pada era modern harus bertransformasi secara dinamis.
Parameter kelayakan tidak boleh lagi direduksi sekadar pada pemenuhan berkas administrasi dokumen dan kemampuan finansial (finansial capability) semata, melainkan wajib bertumpu pada kesiapan fisik yang terukur secara klinis.
“Tes kebugaran ini sangat penting karena ibadah haji membutuhkan kondisi fisik yang prima. Ini langkah preventif agar calon jemaah mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal,” ujar H. Nurul Anwar.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menekankan bahwa program pemetaan kebugaran yang digulirkan melalui Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) ini merupakan wujud kehadiran negara yang konkret.
“Ini bagian dari tanggung jawab negara melalui pemerintah daerah untuk memastikan jemaah benar-benar siap, sehingga risiko kesehatan selama ibadah dapat diminimalkan,” tambahnya.
Ia mendesak agar lembar hasil rekam kebugaran ini tidak berakhir sebagai formalitas pemenuhan prasyarat paspor kesehatan belaka. Jemaah diminta menjadikannya sebagai peta jalan (blueprint) pribadi dalam mengubah perilaku dan meningkatkan kualitas pola hidup sehat secara intensif di sisa waktu menjelang hari keberangkatan.
“Kami mendorong calon jemaah untuk menjaga kebugaran, rutin berolahraga, dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan agar pelaksanaan ibadah berjalan lancar dan kembali dengan kondisi sehat serta meraih haji yang mabrur,” kata Nurul Anwar.
Di sisi teknis operasional, Kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara, Inayastika, memaparkan bahwa esensi utama dari tes kebugaran ini diarahkan untuk memotret daya tahan kardiovaskular (kantung jantung dan paru-paru) para jemaah saat melakukan aktivitas fisik konstan.
Sebelum para jemaah dilepas untuk menjalani uji beban fisik yang disesuaikan dengan ambang batas toleransi usia masing-masing, tim medis terlebih dahulu melakukan skrining dasar secara ketat.
Proses tersebut meliputi deteksi batas fluktuasi tekanan darah (tensi), pengukuran berat badan ideal, hingga perhitungan lingkar perut guna mendeteksi faktor risiko penyakit tidak menular (PTM).
Melalui kombinasi pengawasan ketat dari legislatif dan intervensi klinis dinas kesehatan ini, 113 calon jemaah haji Barito Utara diharapkan memiliki bekal kesiapan fisik yang tangguh.
Dengan demikian, seluruh rangkaian rukun dan wajib haji di Arab Saudi nantinya dapat dieksekusi secara mandiri, aman, dan amanah. (red)











